Wanita Beruntung Menikah dengan Pria Terkaya
Ada seorang wanita cantik yg bernama Sifania Nurdini. Dia lahir di Bogor, Jawa Barat. Dia kelahiran 1995. Sekarang, dia berumur 26 tahun. Dia sudah lulus kuliah di Universitas Negri Jakarta. Sekarang dia bekerja di Jakarta. Dia sering dipanggil Fan.
Sifan: “Sekarang aku udah lulus Universitas, ngomong – ngomong aku mau cari kerja dimana? Apakah aku harus bicara dengan orang tuaku? (Bicara di dalam hati dan sambil memikirkannya)
Lalu sifan membicarakan tentang mencari pekerjaannya untuk mencari jawaban dari orangtua. Sifan langsung bicara dengan orangtuanya. Ayahnya Sifan bernama Pak Burhan Dermawan. Sedangkan ibunya bernama Bu Desi Kusuma.
Sifan: Ayah dan Ibu bolehkah aku bicara dengan kalian.
Ayah: Boleh sayang. Kamu mau bicara apa?
Ibu: betul kata ayahmu.
Sifan: Apakah aku boleh mencari pekerjaan sesuai hobiku?
Ibu + Ayah: Tentu boleh putriku. (sambil tersenyum)
Ibu: kamu mau mencari pekerjaan dimana?
Sifan: Begini, ayah dan ibu. Fan ingin mencari pekerjaan di Jakarta.
Ayah: Apa di jakarta? Jakarta itu ramai dan macet. Apakah kamu bisa menyesuaikan waktu berangkat kerjamu itu tepat waktu?
Sifan: Insyaallah akan kuusahain yah.
Ibu: Fan, kamu putri kita satu – satunya. Kita pasti mencemasin kamu.
Sifan: Fan berjanji. Fan akan menjaga diri di jakarta. Tenang ayah dan ibu.
Ayah: Oke. Kamu boleh bekerja di jakarta. Tapi, dengan 2 syarat.
Sifan: Syaratnya apa?
Ayah: syarat 1 “ibu dan ayah boleh ketemu denganmu 1 minggu sekali, nak”. Syarat 2 “ kamu harus jaga kesehatanmu dan gak boleh pacaran dulu. Kamu boleh pacaran umur kamu 27 tahun”. Paham Fan!
Sifan: Paham, yah. (menundukan kepala dan berbicara). Besok sifan akan mencari pekerjaan.
Ayah + Ibu: Baiklah sayang.
Keesokan harinya sifan bangun jam 04.30 pagi. Setelah bangun sifan ambil air wudhu langsung bergegas sholat subuh untuk mendapat hidayah dan memperlancar mencari pekerjaannya. Setelah selesai sholat subuh sifan langsung mandi. Setelah mandi sifan langsung sarapan pagi. Jam 6 pagi sifan pamitan kepada kedua orangtua.
Sifan: Ayah dan Ibu. Sifan berangkat kerja dulu ya. Doain supaya sifan mendapatkan pekerjaan sesuai hobi sifan.
Ayah: iya, sayang. Ini uang naik kendaraan dan uang jajan kamu. Sisa uangnya di tabung nak. (sifan dikasih uang dari ayahnya Rp 120.000)
Sifan: iya, ayah. Makasih ya, yah. (Sifan memeluk ayahnya dan salim)
Ibu: Hati – hati kamu di jakarta. Jaga kesehatanmu.
Sifan: ya, Bu. Assalammulaikum (sifan salim ke ibunya) Dadah .... (melambaikan tangan)
Jam 7.15 sifan sudah sampai di Jakarta. Sekarang sifan mulai mencari pekerjaannya. Sifan sudah bawa perlengkapan untuk mencari pekerjaanya. Jam 7.30 pagi sifan mencoba memasukin gedung Administrasi Negara. Lalu, sifan menanyakan ke repressonis.
Sifan: Assalammulaikum, Mbak.
Zee: Wa’alaikumsallam, Mbak. Bisa saya bantu.
Sifan: Nama saya Sifania Nurdini. Saya mau tanya “Apakah di gedung ini ada lowongan pekerjaan?”
Zee: sebentar ya, mbak fan.
Sifan: baiklah. Saya tunggu.
Tak lama kemudian zee menemukan kertas lowongan pekerjaan disini. Lalu zee langsung bicara dengan Fan.
Zee: Mbak Fan, disini ada lowongan pekerjaan.
Sifan: benarkah itu, Mbak. Lowongannya apa? (hatinya gembira)
Zee: kami membutukan karyawan ahli ketik tugas disini, membersih toilet dan akuntansi. Bak Fan boleh pilih dari 3 lowongan kerja disini.
Sifan: Baiklah. Ehm (sambil memikirkan)
Tak lama kemudian sifan pilih Akuntansi. Lalu sifan bicara dengan Mbak Zee.
Sifan: Mbak, saya pilih Akuntansi. Karena saya lulusan Akuntansi.
Zee: baiklah. Ini formulir pendaftaran. Anda mengisi formulir ini. Setelah di isi lalu anda cari ibu Senny di lantai 2. Ibu senny itu pemilik gedung ini. Nanti anda di wawancara dengan bu Senny.
Sifan: baiklah Mbak. Anda mbak siapa?
Zee: nama saya Zeeta nurfa. Saya di terima disini sudah 2 tahun yg lalu.
Sifan: senang bertemu dengan anda, mbak Zee. Ini formulirnya sudah saya isi. Aku langsung ke lantai 2.
Zee: Semoga sukses ya.
Sifan: Sip. (jempolnya di tunjukkan dan tersenyum)
Sifan langsung ke lantai 2. Tak lama kemudian sifan sudah sampai di lantai 2. Ternyata lantainya 1 nya memakai tangga. Lantai 2 - lantai 5 memakai lif. Sifan sudah menemukan ruangan bu Senny. Lalu sifan mengetok pintu.
Sifan: Permisi Bu Senny. Ini saya Sifan. Saya boleh bertemu dengan anda.
Bu Sen: ya, boleh. Silahkan masuk.
Sifan membuka pintu dan menutup pintu. Bu senny mempersilahkan aku duduk di kursi.
Bu Sen: anda mau bekerja disini. Apakah anda sudah mengisi formulir pendaftaran.
Sifan: sudah bu. Ini formulirnya. (memberikan formulir itu ke bu Senny)
Lalu bu senny memeriksa formulir dari Sifan. Tak lama kemudian bu senny bertanya dengan sifan.
Bu Sen: Apakah anda ingin berkerja disini. Saya akan menanyak pertanyaan yg berbeda dalam 5 menit. Jika pertanyaannya benar anda langsung menjawab soal Akuntansi. Jika jawaban anda akuntansinya minimal benar 7 anda boleh bekerja disini. Paham Fan!
Sifan: ya, saya paham.
Sekitar 5 menit bu senny sudah menanyakan pertanyaan yg berbeda ke Sifan. Lalu bu Senny memberikan 1 soal Akuntansi.
Bu Senny: ini soal Akuntansi. Silahkan untuk mengerjakan.
Sifan. Ya, bu.
Sekitar 10 menit sifan sudah selesai mengerjakan soal akuntansi. Bu senny datang dan sifan memberika soal akuntansi ke bu Senny. Sekitar 15 menit bu senny sudah memeriksa pekerjaan sifan. Lalu, bu senny memberitahukan hasil dari pekerjaan sifan.
Bu Senny: Begini Fan. Anda boleh bekerja disini.
Sifan: benarkah itu, bu senny. (gak percaya)
Bu senny: benarlah. (tersenyum)
Sifan: makasih bu Senny.
Bu senny: sama – sama Fan.
Jam 16.00 wib sifan dan semua karyawan di gedung Administrasi sudah selesai bekerja. Semua karyawan boleh pulang. Besok datang kesini jam 8 pagi.
Sifan pulang ke Bogor. Jam 17.10 wib sifan sudah datang ke rumah. Pak Burhan melihat sifan dengan pakaian kantoran. Sifan salim ke ayahnya dan mengucapkan salam.Setelah itu sifan ke kamarnya untuk mengambil pakaian rumah dan langsung mandi.
Jam 17.25 wib sifan sudah selesai mandi. Sifan meletakkan baju kotor ke keranjang baju kotor. Sifan langsung masak makanan. Ibunya sifan arisan RT. Jam 17.35 wib ibunya sifan sudah pulang ke rumah. Ibunya sifan ke kamar menemui suaminya dan bicara.
Bu Desi: Kang han, apakah anak kita sudah pulang ke rumah?
Pak Burhan: ya sudahlah, des. Coba kamu ke kamarnya Sifan.
Bu Desi: baiklah kang.
Bu Desi ganti pakaian rumah. Setelah itu, bu Desi langsung ke kamarnya putrinya.
Bu Desi mengetok pintu. Sifan memperbolehkan masuk ibunya ke kamar putrinya. Bu desi langsung menanyakan ke Sifan.
Bu Desi: Fan, kamu sudah dapat pekerjaan / belum.
Sifan: sudah ibuku.
Bu Desi: dimana kamu mendapatkan pekerjaan? Kamu jadi apa di pekerjaanmu?
Sifan: aku kerja di Gedung Administrasi Negara, bu. Aku jadi ahli akuntansi. Aku mengetik pemasukan keuangan disana, bu.
Bu desi: berarti kamu kerja kantoran putriku.
Sifan: iya, bu.
Bu Desi: ibu senang kamu sudah dapat pekerjaannya. Semoga kamu betah disana. Ibu dan ayah akan mendoakan kamu selamat disana.
Sifan: makasih bu.
Bu Desi: sama – sama sayang.
3 bulan berlalu, sifan sudah beradaptasi dengan lingkungan pekerjaannya. Gaji di kantor gak begitu besar. Gaji 1 bulan sudah cukup. Uang tabunganku di rumah akan aku masukan ke Bank BRI untuk masa depanku.
1 tahun kemudian, sifan di tugaskan untuk kerja di luar kota yaitu di Bandung. Tempatnya di Bandung Barat. Sebelum sifan pergi ke Bandung. Malamnya sifan bicara dengan orangtuanya.
Sifan: ayah dan ibu. Besok sifan harus pergi ke Bandung.
Ayah: kenapa kamu ke Bandung, fan?
Sifan: aku ke bandung ada tukar karyawan yg mendapatkan beasiswa. Alhamdulilah aku mendapatkan beasiswa.
Ibu: Berapa lama kamu di bandung, nak?
Sifan: 5 bulanan ayah dan ibu.
Ibu: kami akan memberikan uang kebutuhan sehari – hari di bandung nanti.
Sifan: Gak usah, bu. Sifan sudah punya uang cadangan di Bank.
Ayah: nak, ini uang dari kita. Terimahlah! Uang ini untuk jaga – jaga kamu ada yg kurang membeli barang di bandung.
Sifan: yaudah, sifan terima dari kalian. Makasih ayah dan ibu.
Ayah + Ibu: sama – sama fan.
Keesokan harinya jam 6.30 wib sifan sudah siap membawa semua perlengkapan yg dia bawa ke bandung. Sebelum berangkat sifan pamitan dan salim kepada kedua orangtua. Jam 7.35 wib sifan sudah tiba di gedung administrasi Negara. Jam 08.00 wib bis rombongan karyawan Administrasi Negara langsung berangkat menuju ke Bandung. Sebelum berangkat Semua karyawan masuk ke bis dan semua karyawan langsung berdoa untuk selamat di jalan. Yg mendapat beasiswa ada 30 orang.
Jam 11.30 wib bis rombongan karyawan Administrasi Negara sudah tiba di Bandung barat. Bu senny membagi 10 kelompok. 1 kelompok ada 3 orang. 1 kelompok di tempatkan di tempat / gedung yg berbeda.
Sifan: “Alhamdulilah aku 1 kelompok dengan Agita dan mbak Zee”. Kami di tempatkan di gedung Kantor Pajak Bandung Barat. Senang banget hatiku”.
Besok aku, Agita dan Mbak Zee mulai bekerja di Kantor Pajak. Tak terasa kita bertiga kerja disini sudah 3 bulan. 2 hari kemudian, Sifan beli makanan di rumah makan Sederhana tidak jauh dari tempat kerjanya. Jam 12 siang sifan lapar dan beli makan siang di makan Sederhana. Agita dan Mbak Zee belum selesai tugasnya.
Jam 12.10 siang sifan sampai di rumah makan itu. Sifan masuk ke dalam dan memesan makanan yg dia suka. Sifan pesan: sop, tempe bacem dan es jeruk. Jam 12.30 wib sifan sudah selesai makan dan langsung bayar. Sifan lupa. Sifan mau belikan makanan untuk agita dan Mbak Zee. Setelah selesai memesan makanan untuk temanku. Aku kurang bayarnya Cuma Rp 5.000. aku bilang sama ibu pemilik warung.
Sifan: Maaf bu, saya Cuma bawa uang Rp 30.000. saya kurang Rp 5.000
Bu Wati: ya, udah kamu ambil uang dulu. Makan ini ku di tinggal disini.
Tak lama kemudian ada seorang pria yg ganteng. Pegang tangan sifan.
Beni: teteh, gak usah ambil uang ke tempat kerja anda. Biar saya bayarin yg kurangnya.
Sifan: Tapi, kang. Aku ngerepotin anda.
Beni: gak kok. Tenang aja, teteh.
Sifan: baiklah kang.
Beni: bu ini uang yg kekurangan teteh ini.
Bu Wati: ya, mas. Ini pesanannya saya kembaliakan.
Sifan: makasih bu. (mengambil pesanan itu)
Lalu sifan bicara dengan beni di perjalanan menuju tempat kerja. Lalu, mereka kenalan di jalan. Mereka berbincang – bincang.
Sifan: Nama akang siapa?
Beni: nama saya Beni Putra Prakoso. Saya lahir di Depok, Jawa Barat. Orang tua saya di depok. Sedang anda siapa?
Sifan: Nama saya Sifania Nurdini. Akang bisa panggil aku Fan. Saya lahir di Bogor, Jawa Barat. Disini saya tukar karyawan dari jakarta ke Bandung selama 5 bulan.
Beni: Sekarang, Teh Fan kerja dimana?
Sifan: aku kerja di Kantor Pajak tidak jauh dari sini. Sedangkan, akang dimana?
Beni: aku kerja di perusahaan Makanan terkenal di Indonesia.
Sifan: benarkah itu. Wah, hebat banget. Akang singgel / sudah punya pacar.
Beni: masih singgel. Emang kenapa?
Sifan: gak apa – apa. Saya Cuma tanya. Saya juga masih singgel. Maaf kang Beni aku harus k kembali ke tempat kerja. Makasih sudah ngobrol denganku. Sampai bertemu lain waktu.
Beni: ya, sama – sama Cantik.
Jam 12.45 wib sifan langsung ke ruanganya Mbak zee. Ternyata mbak zee dan Agita lagi santai. Lalu sifan bicara dengan mereka.
Sifan Mbak Zee dan Agita ini makanan untuk kalian. Terimahlah!
Mbak zee: beneran ini makanan untuk kami.
Sifan: ya, mbak Zee.
Mbak Zee: Makasih ya, Fan. Aku ganti uangmu.
Sifan: gak usah di ganti uangku Mbak Zee. Saya ikhlas.
Mbak Zee: makasih Fan.
Sifan: sama – sama Mbak Zee.
Agita: Fan punyaku mana?
Sifan: itu di mbak Zee.
Agita: makasih ya, Fan.
Sifan: ya, sama – sama Gi.
4 bulan lebih 10 hari kemudian jam 14.00 wib Beni datang ke kantor pajak untuk membayar pajak perusahaannya. Dia bertemu dengan Sifan. Lalu sifan dan beni menatap mata.
Sifan: akang mau bayar pajak disini.
Beni: ya, iyalah cantik. Pajak perusahaanku berapa cantik?
Sifan: sebentar ya, kang.
Tak lama kemudian sudah ketemu perusahaan yg di pegang beni. Lalu sifan bicara dengan Beni. Setelah selesai bicara. Sifan mencatat di kertas kwitansi. Lalu uang yg pegang beni aku ambil dan ku tukar kertas kwitansi sebagai tanda sudah bayar pajak.
Beni: Makasih ya, cantik. Aku boleh minta nomer Hpmu.
Sifan: boleh. (sifan menulis no hpnya di kertas kosong. Setelah selesai nulis dan kertas yg beri no hpnya sifan diberikan ke Beni) ini no Hpku.
Beni: makasih cantik.
Sifan: sama – sama kang Beni.
Lalu beni meninggalkan kantor pajak dan sifan bicara didalam hati “(Apakah dia adalah jodohku? Mana mungkin aku mendapatkan cowok kaya itu? Aku dari keluarga sederhana.)”
3 hari kemudian jam 16.00 wib sifan mendapatkan telpon dari nomer tak dikenal. Lalu telpon pertama di putus. Tak lama kemudian nomer itu telpon lagi. Lalu, sifan menjawab telpon itu.
Beni: assalammulaikum Teh Fan. Ini aku Beni.
Sifan: ada apa kang telpon aku?
Beni: gak ada sih. Saya Cuma memastikan nomermu benar.
Sifan: ya, sudah. Aku matikan pembicaraan kita.
Beni: tunggu cantik. Aku mau bicara yg sesungguhnya kepadamu.
Sifan: kamu mau bicara apa?
Beni: pulang kerja kamu ada acara gak.
Sifan: gak ada. Kamu mau ngajak aku kemana?
Beni: di tempat yg spesial untukmu.
Sifan: apakah kamu sungguh cinta padaku.
Beni: iya cantik. Aku sungguh cinta padamu.
Sifan: ok. Besok kamu jemput aku di tempat kerjaku.
Beni: baiklah. Sampai bertemu besok sore.
Sifan: ya, kang Beni.
Kesesokan harinya jam 14.00 wib sifan ngobrol dengan mbak Zee dan Agita.
Sifan: mbak Zee dan agita. Nanti aku di ajak sama Kang Beni pergi berdua.
Mbak Zee: dia cowok ganteng. Dia anak perusahaan makanan terkenal di Indonesia.
Agita: Fan, kamu beruntung banget punya pria seperti dia. Beneran dia mengungkapkan cinta padamu.
Sifan: iya, benar. Dia akan jemput aku di kantor pajak ini jam 16.00 wib.
Mbak Zee: kamu harus jaga dirimu ya. Jangan lupa pulang, fan.
Sifan: baiklah Mbak Zee.
Jam 16.05 wib Beni datang di Kantor Pajak. Aku tunggu di kursi teras. Lalu, beni teriak “ayo teh Fan”. Lalu aku masuk mobil beni. Aku sudah masuk mobil beni. Aku duduk di depan dan duduk dibelakang adalah pegawalnya beni. Ternyata beni adalah anak pemilik perusahaan makanan terkenal di Indonesia. 15 menit kemudian, aku dan kang beni sudah tiba di rumah makan yg terkenal di Bandung Barat. Aku dan kang beni turun dari mobil. Pegawalnya beni turun juga. Aku dan kang beni masuk kedalam rumah makan. Pengawalnya tunggu di luar. Lalu kang beni bicara denganku.
Beni: Teh Sifan, kamu mau pesan apa?
Sifan: ayam panggang pop 2 dan Es Jeruk. Yg bayarin semuanya siapa?
Beni: akulah teh cantik. Mbak aku pesan ayam madu pop 1 dan jus jambu ya.
Mbak pelayan: baiklah, Pak. Anda tunggu dulu ya.
Beni: Oke.
Aku dan kang Beni sambil nunggu pesannya dianterin.Beni mulai bicara serius dengan Sifan. Dia bicara dari awal rasanya dia tertarik padaku – dia ingin mengajak aku ke pelaminan. Tapi, aku belum siap menuju kepelaminan. Beni menunggu aku sampai aku sudah siap menuju ke pelaminan. Sekitar 20 menit pesanan kami sudah datang. Lalu, akmi baca doa sebelum makan. Setelah kami baca doa. Tangan kami cuci dulu di mangkok yg berisi air. Sekitar 30 menit / jam 17.10 wib sudah selesai makan. Kang beni menyuruh aku tunggu disini dulu. Aku mau bayar dulu di kasir. Tak lama kemudian, kang beni sudah bayar pesanan dari kami. Aku dan kang beni langsung pulang. Kang beni mengantarkan aku pulang ke tempat kos / tepatnya di depan gerbang pintu masuk kos.
Sifan: makasih ya, kang beni. Kamu sudah mengantar pulang dan meneraktir aku.
Beni: sama – sama Teh Fan. Sampai bertemu besok.
Sifan: ya. Hati – hati kamu di jalan.
Beni: ya, cantik. Dah... (melambaikan tangannya dia ke aku)
1 hari sebelum timku pulang ke Jakarta. Jam 16.00 wib Kang Beni datang ke tempat kerjaku. Dia mengajakku ke Alun – alun bandung. Disana kami berbincang – bincang. 15 menit kami sudah berbincang – bincang. Kang Beni mengajakku ke rumah makan yg tak jauh dari alun – alun. Dinana, kami makan sore. Aku ditraktir sama kang Beni lagi. Aku berbicara dengan Kang Beni.
Sifan: Kang, besok aku dan temanku harus kembali ke Jakarta. Karena waktu pertukaran karyawan sudah selesai.
Beni: berarti aku gak bisa ketemu denganmu.
Sifan: ya, gak bisalah. Tapi, kalau kamu ingin ketemu denganku di Jakarta. Aku kerja di jakarta. tempat kerjaku di Gedung Administrasi Negara Jakarta Selatan.
Beni: InsyaAllah aku akan menemuimu disana.
Sifan: Ok. Aku tunggu.
Setelah selesai berbincang – bincang dengan Kang Beni. Kami langsung makan yg kami pesan tadi. 20 menit, kami sudah selesai makan. Setelah itu, kang beni yg membayar pesanan kami. Tak lama kemudian, kang beni mengajak aku pulang dan menganterin pulang aku. Jam 17.16 wib aku sudah sampai di depan pintu gerbang kosku. Setelah itu, aku berterima kasih ke Kang Beni. Aku langsung masuk kedalam dan aku berjalan menuju kamar kosku. Mbak Zee bertanya padaku.
Mbak Zee: Fan, kamu habis diajak pacarmu ke alun – alun ya.
Sifan: Iya. Kok mbak Zee tahu. Di beritahukan siapa?
Mbak Zee: aku di beritahukan oleh Agita. Pacarmu namanya siapa sih?
Sifan: Ehm... kepo sih, mbak Zee. Beritahu gak yah.
Mbak Zee: beritahu dong, Fan. Aku gak ganggu hubunganmu dengan pacarmu.
Sifan: Cowoku itu seorang anak pemilik Perusahaan Makanan terkenal di Indonesia. Dia orangnya baik, romantis, dan kami baru kenal 2 bulan saja. Nama cowok itu adalah Beni Putra Prakoso.
Mbak Zee: wah, kamu hebat banget. Dapat cowok kaya itu.
Sifan: iya, Alhamdulillah.
Mbak Zee: Dia serius mau sama kamu. Apakah sudah bilang ke orangtuamu, kalau kamu sudah punya pacar?
Sifan: belum. Besokkan kita pulang ke Jakarta. Besok malam aku akan bilang sama ortuku.
Mbak Zee: baiklah, aku tunggu.
Sifan: ngomong – ngomong, besok kita di jemput bisnya jam berapa?
Mbak Zee: Tadi jam 16.30 aku mendapat sms dari Bu Senny. Beliau bilang “besok bis yg jemput kalian tiba di Kantor Pajak jam 14.00 wib. Berarti kamu gak bisa ketemu denganmu.
Sifan: ya. Tapi aku sudah bilang ke dia. Kalau dia ingin ketemu dengnku di Gedung Administrasi Negara Jakarta Selatan.
Mbak Zee: Oh, gitu. Pertahankan kisah cintamu dengan Beni ya.
Sifan: Oke, mbak Zee. Makasih ya.
Mbak Zee: Yoi, Fan.
Keesokan harinya jam 12. 00 wib semua karyawan Kantor Pajak untuk istirahat.kami bertiga membereskan barang kami dan brang punya kami di masukkan di tas masing – masing. Setelah kami memereskan barang. Kami bertiga beli makan di luar kantor. Tepatnya di Rumah makan yg aku ketemu dengan Beni. Kami bertiga sudah sampai di rumah makan tersebut. Aku dan temanku pesan makanan sendiri – sendiri.aku sambil melihat orang – orang disini. Siapa tahu ada Kang beni kesini. Sekitar 20 menit / jam 12.40 wib kami sudah selesai makan dan kami bayar uang makanan kami. Setelah itu, kami kembali ketempat kerja.
Jam 14.00 wib bis kami sudah tiba di depan Kantor Pajak. Kami pamitan sama bos pemilik perusahaan disini dan semua karyawan disini. Setelah kami pamitan dan kami langsung masuk kedalam bis. Jam 16.30 wib semua karyawan di bis sudah tiba di Gedung Administrasi
Negara. Aku dan timku duduk dulu di teras. 10 menit kemudian aku pamit pulang ke timku. Setelah aku pamit pulang. Aku langsung naik bis trans jakarta menuju ke terminal Jakarta Selatan. Setelah itu aku aku naik angkot jurusan Bekasi. Lalu, aku turun dan aku sambung naik angkot jurusan Bogor.
Jam 17.25 aku sudah sampai di depan rumah. Aku salim dan mengucapkan salam ke ayahku. Lalu, aku masuk ke dalam rumah menuju kamarku. Aku meletakkan tasku. Aku buka tasku untuk mengambil pakaian kotor. Pakaian kotorku aku masukan ke keranjang pakaian kotor dekat mesin cuci. Ayahku mempunyai tanah 2 hektare. Tanah itu ditanamin jagung yg banyak. Setiap sabtu dan minggu aku membantu ayahku ke kebunnya yg tak jauh dari rumahku.
Alhamdulillah orang tuaku di ruang tamu. Aku langsung berbicara dengan orangtuaku. Aku sambil bawa makan di ruang tamu. Aku mulai bicara dengan orangtuaku.
Sifan: ayah dan ibu. Aku boleh bicara dengan kalian
Ayah + ibu: boleh sayang.
Ayah: kamu mau bicara tentang apa?
Sifan: aku sudah punya pacar yah dan ibu.
Ibu: Apa? Emangnya pacarmu tinggal dimana?
Ayah: nama pacarmu siapa? Dia bekerja dimana?
Sifan: Ayah dan Ibu. Dia bernama Beni Putra Prakoso. Dia adalah anak pemilik Perusahaan Makanan terkenal di Indonesia. Perusahaan itu berada di Bandung. Sekarang dia masih di Bandung. Orang tuanya masih di Depok, Jawa Barat.
Ibu: apakah benar Beni itu suka padamu? (Gak percaya)
Ayah: foto benimu itu seperti apa?
Sifan: ini ayah fotonya. (berikan hpku ke ayah. Karena foto beni di hpku) Bgmn yah?
Ayah: Orang ini namanya Beni. Kalo ayah sih setuju. Kalau kamu pacaran dengan dia. Ibumu bgmn?
Ibu: (ibunya Sifan melihat fotonya Beni) Ehm... Apakah dia mau menerima kamu yg mempunyai keluarga sederhana ini.
Sifan: InsyaAllah bu, dia pasti menerima keluarga kita.
Ibu: Oke. Ibu memperbolehkan kamu pacaran dengan dia.
Ayah: aku dan ibumu akan berdoa untuk kalian berdoa langgeng ya.
Sifan: ya. Makasih ayah dan ibu. (sifan memeluk orang tuanya)
Setelah selesai bicara dengan orang tuanya sifan. Lalu, sifan makan dulu.10 menit kemudian, Sifan sudah selesai makan. Piring yg dibawa sifan dibawa ke tempat cuci piring. Kemudian sifan nonton tv. Keesokan harinya jam 4.45 sifan bangun.sifan ambil air wudhu dan sifan langsung sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh. Sifan langsung berdoa.
Sifan berdoa: “Ya Allah Apakah Kang Beni Putra Prakoso itu adalah jodohku. Jika benar dia adalah jodohku. Tolong lah hamba supaya dia bisa menerima keluargaku yg sederhana ini. Lancarkanlah hamba dalam bekerja di gedung Administrasi Negara. Amin ya Robba Alamin”
Setelah selesai berdoa. Sifan langsung bergegas mandi. 15 menit sifan sudah selesai mandi. Setelah itu sifan meletakan pakaian kotor ke keranjang. Kemudian, sifan membantu ibunya membuat sarapan pagi. 20 menit, sifan dan ibunya sudah membuat sarapan pagi. Makanan yg dibuat kita di letakkan di meja makan. Sifan ambil piring, nasi 2 entong dan lauk untuk srapan pagi. Jam 06.30 wib sifan pamit kepada kedua orang tua. Jam 07.46 wib sifan sudah datang ke kantor. Jam 16.00 wib sifan pamit pulang. Sifan ketemu dengan Kang Beni di jalan. Tepatnya di bekasi. Sifan nyegat angkot bogor di perbatasan bekasi dengan bogor. Tiba – tiba kang Beni ngelakson aku. Sifan kaget.
Sifan: woi, jangan ngelakson aku.
Jendela mobilnya dibuka. Ternyata kang beni. Dia mengajak aku masuk. Dia bertanya padaku. Mesti dia ingin mengantar aku pulang. Ternyata dia mau mengantar aku pulang.
Beni: Teh Fan, aku ingin mengantar kamu pulang.
Sifan: beneran nih. Rumaku di kampung.
Beni: benerlah. Aku kan peduli denganmu.Dimanapun kamu tinggal akan mengantarkan kamu kembali pulang. Minggu ini aku pulang dan habis nganterin kamu pulang. Besok aku ingin ngajak kamu ke rumah ortuku. Aku ingin memperkenalkan orang tuaku ke kamu.
Sifan: baiklah, kang. Aku juga
Jam 17.20 wib aku dan kang Beni sudah sampai di rumahnya Sifan. Aku langsung bilang ke kang Beni. Meskipun jalan kampung gak di aspal. Tapi kang beni sanggup menganterin aku pulang kerumah.
Sifan: kang, ini rumahku. Ayo turun dari mobil.
Beni: wah rumahmu sangat kuno dan bagus. Aku suka.
Sifan: ayo masuk dulu. Aku mau panggilin orang tuaku.
Beni: ya. (beni tunggu di ruang tamu)
5 menit kemudian, orang tuanya sifan menemui kang beni di ruang tamu. Sifan mengambil minum untuk kang beni. Tak lama kemudian sifan membawa minumah teh anget
Sifan: ini minumannya. Silahkan di minum! (aku meletakkan teh anget di meja.)
Beni: makasih teh Fan.
Sifa: Ya. (tersenyum)
Ayah: Nak Beni, kamu yakin cinta sama anakku.
Beni: yakin, om. Aku tulus cinta sama anak om.
Ayah: kamu gak gengsikan kalau kamu pacaran dengan anakku.
Beni: ya, gaklah om. Ngapain aku gengsi. Besok aku ingin membawa Sifan ke rumah orangtuaku.
Ayah: beneran nih, Ben.
Beni: ya, berlah om. Ngapain aku bohong. Om mengizinin aku bawa sifan ke orang tuaku.
Ayah: baiklah, ben. Tapi, kamu harus jagain Sifan ya.
Beni: baik om.
Sifan: Kang Beni, teh angetnya di minum.
Beni: Oh ya. Aku lupa. Makasih Teh Sifan.
Sifan: sama – sama kang.
10 menit kemudian kang Beni pamit pulang. Tak lupa kang beni salim dan salam ke orang tuanya sifan. Besok kang beni jemput aku di rumah jam 08.00 wib.Keesokanharinya kang beni datang ke rumahnya sifan jam 08.00 wib. Aku bantuin ayahku di kebun jam 6 pagi.
Kang beni mengetok pintu rumahnya sifan. Ternyata yg bukain pintu ibunya. Beliau bilang ke Beni: “Sifan bantuin ayahnya di kebun tak jauh dari sini. Kamu tunggu dulu. Aku sms dulu ayahnya fan”. Beni: ya, tante.
5 menit kemudian, aku dan ayah sudah datang ke rumah. Malah aku lupa punya janjian ketemu dengan orangtuanya beni. Aku dan ayah masuk kedalam rumah.
Ayah: Fan, itu Beni sudah datang.
Sifan: yah ini alat kebunnya. Aku mau ganti pakaian dulu.
Ayah: baiklah.
Sifan lewat belakang rumah. Malah ketemu dengan ibunya. Lalu, ibunya sifan bicara.
Bu Desi: Fan, itu Beni sudah datang. Buruan kamu ganti pakaian. Di tunggu beni dari tadi.
Sifan: ya, bu.
Tak lama kemudian, sifan sudah ganti pakaian dari pakaian rumah ke pakaian pergi. Setelah itu sifan pamitan ke orang tuanya dia sendiri. Sifan dan beni salim dan salam ke orang tuanya sifan. Jam 11.15 wib sifan dan beni sudah sampai ke rumah orang tuanya beni.Ayahnya Beni namanya Pak Feri Prakoso. Sedangkan, nama ibunya Beni -> Bu Sonia Fatimahsari.
Aku dan kang Beni turun dari mobil. Ternyata kang Beni bawa pengawalnya. Kang beni masuk kerumah. Sifan di suruh duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian orang tuanya kang Beni menemui Sifanifan. Mereka berbincang – bincang.
Sifan: Assalam mualaikum Om dan Tante. (salim tangannya ortu Beni)
Pak Feri: Apakah namamu Sifan?
Sifan: Bener Om.
Pak Feri: Anak saya ketemu denganmu dimana?
Sifan: di Bandung. Sebenarnya saya kerja di Jakarta. 5 bulan yang lalu, semua karyawan yg beasiswa di tugaskan kerja di luar kota. Alhamdulillah saya di tempatkan kerja di Bandung.
Bu Sonia: Wah kamu pintar ya. Pantesan anak saya tertarik denganmu.
Sifan: iya, tante. Alhamdulillah
Pak Feri: sekarang kamu tinggal dimana?
Sifan: Sekarang saya dan ortuku tinggal di Kampung tepatnya di Desa citerem.
Bu Sonia: wah, enak banget. Kamu tinggal di desa bersama ortumu.
Sifan: ya. Disana udaranya sejuk. Kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam matahari.
Bu Sonia: ayah aku ingin kita ke rumahnya Sifan. Bolehkah, yah?
Pak Feri: nanti kita bilang dulu anak kita.
Bu Sonia: baik, yah.
Tak lama kemudian, kang beni bawa minuman buat aku dan ortunya Beni. Lalu beni ikut berbincang – bincang dengan kita.
Beni: kelihatannya ibuku senang banget.
Bu Sonia: Iya, nak. Apakah pacarmu tinggal di kampung?
Beni: bener bu. Emangnya ibuku mau merasakan suasana di kampung.
Bu Sonia: Pengen nak. Tapi kapan?
Beni: minggu depan aja. Kita bertiga ke rumahnya Sifan.
Bu Sonia: Oke sayang.
Beni: Fan, bolehkah orangtuaku ke rumahmu minggu depan?
Sifan: Boleh, kang. Minggu depannya hari apa?
Beni: nunggu aku kembali lagi ke Depok ya.
Sifan: Ya, kang.
Beni: ayo, minum dulu.
Aku, beni dan ortunya beni minum dulu. Setelah selesai minum. Beni bicara dengan kedua orang tuanya.
Beni: ayah dan ibu. Bolehkah aku melamar sifan menjadi calon istriku?
Ayah: Ehm... Bagimana ya? Kalau ibu?
Ibu: Kalau ibu sih. Boleh sayang.
Beni: Makasih ya, bu. Yah, bagimana?
Ayah: Baiklah, ayah setuju. Tapi ada syaratnya.
Beni: Apa syaratnya?
Sifan: (mendengarkan perbincangan kang beni dengan kedua orang tuanya kang beni)
Ayah: kamu dan nak fan harus menjaga keluargamu dimasa depan. Kamu gak boleh putusin / ceraikan dia. Karena dia sangat tulus mencintaimu.
Beni: baiklah yah. Aku akan mengikuti syaratnya ayah.
Ayah: Fan, kamu harus meenjaga keluargamu ya. Jangan sampai kalian bercerai. Aku dan istriku akan berdoa ke kalian. Supaya kalian tetap kokoh di dalam keluarga kalian.
Aku + Beni: iya, yah. Kami siap.
Jam 9.30 wib aku dan beni pamitan mau jalan – jalan. Tapi, ibunya beni ingin ikut. Akhirnya ibunya beni ikut sudah diperbolehkan beni. Pengawalnya beni tunggu di rumah bersama pak Feri. Akhirnya kami langsung berangkat jalan – jalan. Rute pertama kami ke alun – alun depok. Kemudian, rute kami yg kedua ke rumah makan. Rute ketiga ke pasar beli pakaian.
Jam 14.00 wib kami menuju ke tujuan terakhir yaitu ke pasarbeli pakaian. Kami turun dari mobil. Kami masuk ke dalam pasar.kang beni dan ibunya beli baju kemeja, celana panjang dan sepatu. Sifan gak beli apapun. Kang beni menawarkan ke Sifan beli pakaian. Lalu sifan menjawab: “gak usah, kang. Aku gak beli pakaian. Aku gak punya uang untuk beli pakaian di sini. Karena mahal”. Lalu kang beni memegang tanganku untuk ke kios baju yg di tuju kang beni. Ibunya beni nunggu di tempat bakso. 5 menit kemudian, aku dan kang beni sudah sampai kios baju yg di tuju. Kang beni berbicara denganku.
Beni: Teh fan, aku mau traktir pakaian untukmu. Kamu ambil 1 barang untukmu dan 2 barang untuk ortumu.
Sifan: ya, saya lihat dulu pakaiannya.
Tak lama kemudian sifan mengambil 2 baju lengan panjang dan celana panjang. Setelah itu, barang yg di pegang sifan di letakkan ke kasir. Kang beni bayar barangnya. Setelah selesai, kang beni membayar barangnya. Aku dan beni langsung ke tempat bakso. Sekitar 5 menit, aku dan beni sudah sampai di tempat bakso. Kami bertiga langsung kembali pulang. Jam 15.10 wib kami sudah sampai dirumahnya ortunya beni. Barangku di letakkan ke dalam mobil. Aku, beni dan ibunya beni turun. Aku duduk di ruang tamu. Kang beni dan ibunya meletakkan barang belanjaannya di kamar masing – masing. Tak lama kemudian kang beni duduk di sebelahku. Dia bicara denganku.
Beni: Teh fan, aku melakukan semua itu untukmu dan ortumu. Aku ingin membuat kamu dan ortumu bahagia.
Sifan: ya, kang. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus menghemat uangmu ya. Supaya kamu bisa menggunakan uangmu yg di hemat untuk masa depan kita.
Beni: ya, teh Fan. Aku paham. Ngomong – ngomong kamu mau pulang jam berapa?
Sifan: jam 15.30 wib aja.
Beni: Ok.
Jam 15.30 wib aku dan beni pamitan pulang. Beni menganterin aku pulang. Aku pamitan ke ortunya beni. Aku salim dan salam kedua orangtuanya beni. Setelah itu, aku dan beni masuk mobil. Pengawalnya beni juga ikut masuk mobil. Lalu, kami meninggalkan rumah ortunya beni. Jam 18.15 wib aku dan beni sudah smpai di rumahku. Aku dan kang beni turun dari mobil. Ayah dan ibunya Sifan tunggu di teras. Barang yg di traktir beni di bawa masuk ke dalam rumahnya sifan. Beni pamitan pulang dulu. Beni bicara dengan sifan.
Beni: Teh fan, besok aku harus kembali kerja di Bandung. Sampai bertemu minggu depan.
Sifan: oke. Aku tunggu.
Beni: Om dan tante saya harus kembali ke depok dulu.
Ayah: ya. Hati – hati nak Ben.
Ben: ya, om.
Beni salim tangan dan salam kedua orang tuanya Sifan. Yg ngupir mobilnya beni adalah pengawalnya. Jam 20.30 wib beni dan pengawalnya sudah sampai rumah ortunya beni. Beni langsung tidur. Pengawalnya yg masukan mobil ke garasi. Besok pagi jam 05.30 beni harus kembali kerja di bandung.
10 bulan kang beni dan sifan pacaran. 1 tahun kemudian, beni melamar sifan di depan ortunya sifan dan beni. Beni melamarnya membawa cincin kawin. 3 bulan kemudian, sifan dan beni menikah di Gedung Kuningan Jakarta. Akad ijab kabulnya sehari sebelum akad nikah. Ijab kabulnya di sasikan oleh om, tante, bude, pakde dan sepupunya dari kedua mempelai. Sehari kemudian, akad nikahnya di adakan di Gedung Kuningan Jakarta. Undangan akad nikah dari jam 10.00 wib – 15.10 wib. Para tamu akad nikah sangat banyak. Sekitaran 500 orang yg di undang. Jam 15.10 wib akad nikahnya sudah selesai. Aku dan beni masuk ke dalam mobil barunya beni. Mobil lamanya di jual. Yg menyupir mobil barunya beni adalah pengawalnya beni. Orang tuanya kedua mempelai masuk mobil ortunya beni. Mereka menuju ke rumah barunya kedua mempelai. Rumah barunya aku dan beni di Bandung Barat (Perumahan Cahaya Bunga). Om, tante, pakde, sepupu dan bude ikut ke Bandung.
Jam 19.00 wib kami semua sudah sampai di rumah baru aku dan Beni. Om, tante dan sepupunya beni tinggal di Bandung Utara. Pakde, sepupu dan Bude tinggal di Purwakarta. Om, tante dan sepupunya Sifan tinggal di Bekasi Timur. Pakde, sepupu dan Bude tinggal di Cirebon. Orang tuanya Sifan pulangnya sama om, tante dan sepupunya Sifan. Jam 21.00 wib mereka semua pamit pulang. 7 bulan kemudian, sifan mengandung buah hatinya kang beni. Kandunganya sifan sudah memasuki 6 bulan.Selama sifan menikah dengan beni. Sifan tidak kerja di gedung Administrasi Negara di Jakarta. sifan hanya di rumah saja. Kang beni memperbolehkan sifan bekerja. Jika anak mereka umur 3 tahun, baru sifan mulai mencari pekerjaan. 9 bulan 10 hari sifan merasakan perutnya sakit sepertinya dia akan melahirkan anak. Sifan memanggil pengawalnya beni. Lalu sifan menyuruh pengawalnya beni menelpon rumah sakit. 20 menit kemudian / jam 08.35 wib ambulannya datang ke rumahku. Aku berbaring di kasur yg ada rodanya. Pengawalnya beni mengunci rumah. Mobilnya kang beni dibawa dia sendiri.
Jam 09.00 wib aku sudah sampai di rumah sakit. Aku dibawa di ruang persalinan anak. Pengawalnya kang beni menelpon beni. Nama pengawalnya kang beni adalah Mas Tri.
Tri: Assalam mualaikum Pak Ben.
Beni: Wa’alaikum salam tri. Ada apa?
Tri: Pak Ben, istri anda sekarang di rumah sakit.
Beni: apa yg terjadi?
Tri: istri anda akan melahirkan bayi kalian.
Beni: berkah itu, Tri.
Tri: bener Pak Ben. Cepet ke sini. Istri anda di rumah sakit Harapan Jaya Bandung Barat.
Beni: Oke. Aku akan kesana.
5 Menit kemudian, aku sudah melahirkan seorang anak. Alhamdulillah anak aku dan kang Beni berjenis kelamin Laki – Laki. Aku sangat senang. Aku berterima kasih ke Bu Dokter. Bu dokter keluar dari ruang operasi. Pengawal beni bicara dengan Bu dokter.
Tri: Bagimana kondisi Pasien, dok? Bayinya laki / perempuan?
Bu dokter: Alhamdulillah, bayinya laki – laki.
Tri: Makasih ya, bu dokter.
Bu dokter: sama – sama Pak.
Jam 10.10 wib kang beni sudah sampai di rumah sakit. Kang beni tanya sama suster yg mendata pasien disini. Beni: “Sus, ruangan pasien yg bernama Sifania Nurdini ada di ruang mana?”. Suster: Sebenar ya, Pak
2 menit kemudian, suster sudah menemukan nama pasien itu. Ternyata sifan di rawat di ruangan A21 (Lantai 2). Tak lama kemudian, beni sudah sampai di lantai 2. Beni langsung buka pintu. Sifan sangat kaget. Ternyata kang beni sudah datang. Lalu, sifan memberi tahukan kalau anak kita berjenis kelamin laki – laki.
Sifan: kang beni, anak kita mau di beri nama siapa?
Beni: ehm... sebentar Teh.
3 menit kemudian kang beni menamai anak kita. ( Muhammad Ganendra Nurdiso).arti nama anak kita adalah Seorang pengikut nabi Muhammad SAW, kuat, pemberani, cekatan dan merupakan anaknya Sifania Nurdini dan Beni Putra Prakoso. Keesokan harinya ortunya sifan dan beni ditelpon oleh Beni. Beni memberitahukan bahwa Teh Sifan sudah lahir di dunia.
Kang beni dan Sifan hidup bahagia. Mereka sudah punya anak. Ganendra adalah anak laki / pewaris tunggal dari orangtuanya yaitu Beni dan sifan. Anak mereka menjadi anak yg bisa berguna bagi Nusa, bangsa dan terbaik di Indonesia.
Karya
Wanda Minerva Azhnuri.

Komentar
Posting Komentar